YANG BERMASALAH ANAK ATAU ORANG TUA ?

SETIAP ANAK ADALAH UNIK

Mungkin istilah ini sudah amat sangat sering didengar oleh para orang tua. Dan banyak juga orang tua yang sudah menyadari dan berusaha memahami keunikan tiap anak. Namun tanpa disadari belum sepenuhnya mampu untuk menerapkan dalam keseharian pengasuhan anak, menggunakan prinsip ini.

Pada umumnya dan dikarenakan individu di usia di bawah 13 tahun – 18 tahun adalah usia-usia di mana pengaruh pengasuhan orang tua masih amat besar dampaknya bagi pembentukan karakter dan kepribadian anak.

Maka, berbagai kasus yang dialami anak dan remaja, umumnya orang tua lah yang dibutuhkan untuk ‘belajar’ lebih atau bila boleh dikatakan yang bermasalah pada umumnya adalah kita sebagai orang tuanya.

Menohok sekali ya, namun bagi kita para orang tua pembelajar, yang memiliki kesadaran tinggi untuk menjadi ortu yang lebih baik, dan menghasilkan anak-anak yang lebih baik pula, harus mampu menerima hal ini.

 

PERBEDAAN PERSEPSI

Perbedaan persepsi orang tua terhadap anak, kesenjangan yang terjadi antara harapan orang tua dan kenyataan yang terjadi pada anak dapat dikatakan adalah menjadi sebuah ‘masalah’.

Berdasarkan prinsip di atas tadi, bahwa setiap individu, pada kerangka tema disini adalah anak, adalah individu yang unik.

Unik baik, dari sisi kepribadian, karakteristik, potensi, minat, dan lainnya, yang juga dapat kita temukan dalam berbagai pembagian jenis atau tipologi seperti perbedaan GAYA BELAJAR, selain perbedaan TIPE KEPRIBADIAN anak.

 

TIPE KEPRIBADIAN/KARAKTERISTIK

Dalam bukunya Florence Littauer, beliau menjelaskan 4 tipe kepribadian yang dasar teorinya dari Hipocrates dan kemudian disempurnakan oleh Galenus.

  1. KOLERIS

Cenderung berpikiran keras, percaya diri, mudah bosan dengan hal-hal yang bersifat detail dan menyukai ide-ide baru dan inovatif.

  1. SANGUIN

Mudah bergaul, ­people oriented, kurang memperhatikan dan mudah bosan dengan hal detail, suka bersenang-senang dan banyak bicara.

  1. MELANKOLIS

Rapi dan efisien, lebih suka hal-hal yang bersifat terrencana daripada spontanitas, berpegang teguh pada ide dan atau produk yang telah terbukti berhasil, beriorientasi fakta, data dan angka, dan lebih menggunakan alasan daripada emosi.

  1. PHLEGMATIS

Sangat dapat diandalkan namun membutuhkan lebih banyak rasa percaya diri, mudah down ketika ditempatkan di posisi baru, terlalu mudah mengatakan ‘tidak’.

Pembagian tipe-tipe hanya sebagai tool bagi kita untuk mudah memahami diri sendiri dan terutama anggota keluarga kita, anak-anak kita.

Setiap individu memiliki keempat karakteristik ini, namun biasanya ada 1 dari ke empat karakteristik tersebut yang lebih menonjol di diri tiap individu.

Nah, silakan memulai untuk MENGENALI DIRI SENDIRI lebih dulu sebagai orangtua, pendidik, pengasuh utama dan pemberi pengaruh terbesar bagi anak-anak kita.

3 TIPE GAYA BELAJAR ANAK

 

Berdasarkan gaya belajarnya anak pun, setiap anak berbeda. Orang tua yang seringkali merasa jengkel dengan anak yang susah duduk diam belajar, atau anak yang sulit belajar tanpa musik, maka perlu mengenali juga bahwa setiap anak memiliki GAYA BELAJAR yang berbeda-beda.

Setiap individu memiliki gaya yang dominan dari 3 gaya belajar ini. Manfaat mengenali Gaya Belajar mana yang dominan pada anak, membuat orang tua lebih baik dalam memfasilitasi atau mengarahkan anak dalam belajar yang lebih efektif. Karena dengan belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar anak tersebut, maka informasi-informasi yang dipelajari anak, akan jauh lebih mudah terserap oleh otak anak.

 

  1. GAYA BELAJAR VISUAL

Menerima, memproses dan mempertahankan informasi melalui visual atau penglihatan atau dengan membuat gambaran/citra mental.

Proses belajar lebih efektif dengan menggunakan media grafis, film, peta, poster, slide, diagram dan lain yang sejenisnya.

Mudah mengingat seseorang dari wajah ketimbang nama, lokasi ketimbang nama lokasi, pandai membaca peta, menyukai membaca, menyukai seni lukis, pahat, gambar artistik. Konsentrasi mudah terganggu oleh pergerakan yang terlihat secara visualnya, tidak terganggu oleh suara-suara.

Cenderung kurang menyukai diskusi, sulit mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kata-kata/verbal. Saat menyerap informasi, arah mata lebih sering mengarah ke atas atau melihat jauh kedepan.

 

  1. GAYA BELAJAR AUDITORY

Menerima, memproses, dan menyimpan informasi dengan mengutamakan auditory/pendengaran atau suara/verbal.

Lebih efektif mendengarkan informasi, pelajaran melalui audio, voice note, guru berbicara, rekaman, dll.

Cenderung menyukai irama musik, cenderung mudah mempelajari bahasa dan berbahasa, mudah mengingat nama seseorang. Mudah menghafal lirik lagu, musik. Lebih menyukai ketenangan daripada kebisingan, berdiskusi kelompok, menyampaikan pendapat, ide, secara panjang lebar. Menyerap informasi dari bacaan dengan mendengar dalam hati ataupun bersuara.

Arah mata lebih sering ke samping sejajar dengan telinga ketika menyerap informasi.

 

  1. GAYA BELAJAR KINESTETIK

Menerima, memproses dan mempertahankan serta mengingat informasi melalui gerakan, sentuhan, atau aktivitas fisik, serta berhubungan dengan kegiatan fisik.

Proses belajar cenderung eksperimen, mengalami secara fisik, menyentuh objek, demonstrasi objek langsung, meraba, menyentuh.

Kurang menyukai duduk diam, anggota tubuh cenderung digerak-gerakkan tanpa disadari, berjalan, atau menggerakkan suatu benda, atau tubuh sendiri.

Arah mata saat menyerap informasi cenderung lebih sering mengarah ke bawah.

Nah, anda termasuk memiliki gaya belajar dominan yang mana? Kenali pada diri anak anda dan pahami, sehingga memudahkan Anda mengarahkan membimbing dan memfasilitasi sesuai dengan gaya belajar mereka.

Sehingga Anda tidak akan merasa jengkel atau salah paham ketika anak Anda seolah menurut Anda tidak belajar dengan baik.

 

TIPE PEMBELAJARAN

 

  1. Pembelajar KOGNITIF

Berorientasi pada target, berinisiatif belajar dan melakukan hal-hal secara serius, belajar dengan inspirasi hasil dari apa yang dipahami sendiri, rasa ingin tahu yang besar ketika mempelajari sesuatu, butuh penjelasan rasional disertai bukti untuk menyetujui sebuah teori/pengetahuan, motivasi belajar pada hal yang menurutnya menarik, independen, dan mengikuti prinsip-prinsipnya sendiri secara ketat, dan sangat kompetitif dan gigih.

 

  1. Pembelajar AFEKTIF

Memiliki keunggulan dalam hal meniru, kreatif dan fleksibel. Membutuhkan disemangati serta pujian untuk bertahan dan lebih maju. Belajar hal yang disukai atau tidak disukai berdasarkan pengaruh lingkungan, menghargai proses belejar/bekerja, menyukai keharmonisan, dan lingkungan belajar/kerja yang humanis.

 

  1. Pembelajar KRITIS/REVERSE

Jalan pemikirannya unik, berbeda dari orang pada umumnya, cenderung self centris, mampu mengambil keputusan yang cepat, memiliki naluri yang cukup tajam.

Cenderung berpikir ‘terbalik’; memikirkan hasil sebelum membuat perencanaan, membaca akhir cerita, kemudian jalur cerita. Menyukai humor dan permainan asah otak, gigih dalam bertanya kritis, demi mendapatkan jawaban yang memuaskannya.

 

  1. Pembelajar REFLEKTIF

Menyerap informasi, teori, pengetahuan dengan mempraktekkan berulang-ulang. Cenderung belajar lebih baik di situasi yang mendukung, ada pemimpin, pengajar dan pengingat.

Mencari informasi lebih dulu, atau berpikir dalam-dalam sebelum bertindak, berpikir sendiri terlebih dulu sebelum mendiskusikannya dengan orang lain, bertanya dengan pertanyaan ‘bagaimana’ dan selalu mencari metode dalam perencanaan, berpikir logis maupun imajinatif.

Nah, Anda dan anak Anda ada di tipe pembelajar dengan cara seperti apa ? Selamat mengenali.

Dan sekali lagi saya tegaskan tipe ini hanya sebagai alat membantu Anda untuk bisa lebih mudah mengenali. Tiap individu bisa memiliki kombinasi dari ke 4 tipe ini. Namun biasanya ada yang lebih menonjol dari ke 4 tipe ini.

Tidak ada mana yang lebih baik atau lebih buruk, benar atau salah yaa….

Lusia P. S.Pd., C.Ht.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *