POLA ASUH VS PERKEMBANGAN JAMAN

Pola Asuh VS Perkembangan Jaman

Ada sebuah pesan luar biasa yang patut kita renungkan dan rumuskan kemudian kita praktikkan, dari sahabat Rasulullah SAW, Ali Bin Abu Thalib “Didiklah anak sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zamannya bukan pada zamanmu”

Kalau kita sering mendengar, beda yaa anak jaman sekarang dengan anak jama dulu, dan jaman kita. Begitu seringkali komentar dari para orang tua yang mungkin bisa digolongkan usia kelahiran 1980 an ke atas.

Di era tahun 50 an sd 80 an istilah POLA ASUH mungkin masih menjadi sebuah frase yang jarang terdengar intens. Seolah anak-anak di era tersebut bertumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Sebagian besar ortu pada masa itu cenderung hanya memberi makan, pakaian, membiayai sekolah, dan les-les yang umumnya bisa dikenali; ngaji, belajar menguasai alat musik seperti piano, gitar, dan biola.

Jika menganalisa tentang pola asuh orang tua atau keluarga. Pada jaman-jaman tersebut, hampir secara penuh dilakukan atau anak-anak mendapatkannya dari orang tua, keluarga. Kemudian ditambah pengaruh perkembangan pola pikir adalah dari lingkungan seperti pertemanan, lingkungan permaianan, sekolah dan guru.

Jauh sangat berbeda dengan masa sekarang, terutama era 90 dan 2000an di mana pola asuh sudah semakin meluas, anak-anak mendapatkan pola asuh juga dari gadget, dari dunia internet dan media sosial, atau kita sepakati istilah dunia ini adalah dunia internet.

Masa kini, gaya pengasuhan orang tua pun dipengaruhi sangat besar oleh internet. Sehingga sejak usia sangat dini pun anak-anak mereka banyak sekali terpapar dengan dunia internet.

Saya sebagai seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari juga praktik sebagai konselor dan hipnoterapis keluarga, semakin merasa sedih. Menjadi sebuah peringatan besar bagi kita, tentang situasi dan kondisi anak-anak dan orang tua di jaman sekarang ini.

Bagaimana tidak, kondisi anak-anak sekarang, kurang lebih pun hasil dari generasi-generasi sebelumnya, apakah Anda setuju ? Dan pada akhirnya ini adalah tanggung jawab besar kita bersama.
Bukan berarti sedikit sekali anak-anak yang berprestasi dan bertumbuh kembang dengan baik, luar biasa. Namun, ada hal-hal di bagian lainnya yang perlu juga perhatian kita bersama.

Dibutuhkan sinergi yang kuat dan frekuensi yang intens antar berbagai pihak dan lembaga, seperti pemerintah, lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal, para profesional di bidang pendidikan dan kesehatan baik mental maupun fisik, keluarga sebagai unit atau lembaga terkecil masyarakat dimana menjadi akar atau titik pangkal utama dalam masyarakat besar, bangsa, dan keseluruhan aspek dan lembaga terkait.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, dari website kemkes, disampaikan bahwa lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi, dan terjadi lonjakan hingga 32% pada tahun 2021, disampaikan oleh liputan6.

Sampai hari ini Saya masih menangani kasus anak dan remaja yang mengalami depresi dengan kasus berbagai usaha percobaan bunuh diri, usia terkecil di rumah praktik Saya adalah usia 12 tahun.

Hal ini sungguh sangat menyedihkan. Bisa diintisarikan hampir semua penyebab dari keluhan mental anak dan remaja ini adalah dari pola asuh orang tua dan keluarga serta lingkungan yang kurang kondusif terhadap tumbuh kembang psikologis anak dan remaja kita.

Hal ini butuh perhatian kita bersama untuk bisa disadari dengan penuh hormat dan kesungguhan untuk memperbaiki bersama. Bahwa banyak di kalangan orang tua yang juga butuh untuk penanganan intens dalam menyembuhkan luka-luka batin, luka pengasuhan, dan untuk memperbaiki serta meningkatkan masing-masing pribadi dalam berhubungan dengan anak dan remaja.

Bagaimana ketrampilan komunikasi yang baik, bagaimana mengenali karakter diri dan kemudian karakter anak, bagaimana memandang diri dan kehidupan, sehingga kedewasaan, kematangan serta kebijaksanaan menjadi bagian setiap pribadi masyarakat Indonesia.

Bahkan nilai-nilai luhur bangsa, nilai-nilai mulia agama dan spiritual, terutama TAUHD agar lebih dikuatkan dikokohkan. Anak- anak bukan menjadi penyaluran ambisi orang tua ketika mereka disekolahkan di sekolah-sekolah berbasis agama, pesantren, dan lainnya. Dan bagaimana teladan itu jauh lebih sangat baik. Mendidik anak dengan teladan, dengan penuh kejernihan dan kebeningan hati, inti agama yang penuh welas asih, kearifan kebijaksanaan, dan TAUHID yang paling utama.

Sehingga tidak ada lagi anak-anak dan remaja yang bahkan membenci agama dari orang tuanya sendiri. Menimbulkan kecemasan, rasa insecure, dan lainnya. Yang banyak saya tangani dalam rumah praktik Saya. Bukankah agama itu jalan, untuk mengenal dengan sebenar-benarnya Tuhan, Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga mampu mengingatNya penuh cinta, damai, muthmainnah.

Public figure, tokoh masyarakat, figur-figur otoritas seperti guru, para pemimpin, tokoh idola, orang tua diharapkan menjadi orang-orang pertama yang berubah signifikan dalam mencapai perubahan ini. Berharap semakin banyak bermunculan komunitas-komunitas dan organisasi-organisasi kegiatan bagi anak dan remaja yang bisa mendukung hal ini, diprakarsai oleh pemerintah dan berkolaborasi dengan non pemerintah lainnya.

Sehingga kita semua tanpa kecuali, bisa menyikapi dan memperlakukan setiap anak dan remaja seperti anak kita sendiri, welas asih, empati, pengertian, adil dan berjalannya pola membimbing dan mendidik dalam sikap-sikap dan pola pikir, pola mental setiap kita.

Bukankah bangsa yang kuat adalah bangsa yang mementingkan kebersamaan? Berharap tidak akan ada lagi para orang tua yang menghakimi anak dan remaja seperti bukan anaknya sendiri, diperlakukan seolah tidak berharga dan sama-sama sebagai manusia. Tidak ada lagi perlakuan terhadap anak dan remaja seolah mereka tidak punya hati dan harga diri. Namun bukan berarti memanjakan sehingga mereka sulit mampu mandiri, bertanggung jawab, penuh inisiatif dan kuat secara fisik dan mental.

Yuuk, para orang tua kita ‘bersih-bersih’ luka dan imprint yang merugikan diri dan anak-anak serta keluarga kita. Yuk bersahabat dengan dunia kesehatan mental karena hal ini amat sangat penting peranannya dalam pendidikan karakter juga. Bersahabat dengan para fasilitas layanan kesehatan mental.

Salam hangat dan sayang,

Lusia P., S.Pd., C.M.Ht.
Family Counseling and Hypnotherapy of LaVanza Learning and Therapy Center, Cibubur.
085701101997 – IG @KonselingHipnoterapiKeluarga IG @lusiapw