psikologiremaja

TIDAK PERLU SEMPURNA UNTUK PERCAYA DIRI

PERCAYA DIRI TIDAK PERLU SEMPURNA

Percayalah, tidak ada di dunia ini segala sesuatu yang sempurna. Karena sesungguhnya kita semua tahu itu yang sempurna hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun, pengetahuan ini bisa tidak secara tertanam menjadi program diri kita sehingga membuat kita bisa percaya diri.

Pikiran sadar kita bisa meng iya kan dengan pernyataan itu, tapi ternyata secara kenyataan sehari-hari banyak hal yang menunjukkan diri kita tidak percaya diri, seolah pernyataan hanya Tuhan Maha Kuasa lah yang Maha Sempurna itu tidak menjadi prinsip yang menghasilkan program diri.

Hal ini bisa dijelaskan karena program pikiran adanya di pikiran bawah sadar kita. Sehingga meski secara sadar kita mengambil prinsip tersebut, namun ada program di pikiran bawah sadar kita yang memiliki keyakinan bahwa diri kita bukanlah seorang yang cukup berharga, bukan seorang yang cukup memiliki kemampuan yang baik dan patut dibanggakan, sehingga diri kita menampilkan banyak hal menunjukkan kita tidak percaya diri.

Nah, oleh sebab itu, sangatlah penting untuk menyadari semua ini agar diri kita tetap mampu percaya diri. Bagaimana caranya ?

Kita perlu memahami lebih dulu, bahwa percaya diri adalah sebuah hasil dari pengalaman, pengetahuan dan menjadi memori yang menjadi program diri kita.

Pertama-tama sadari lebih dulu, makna percaya diri bagi diri kita itu apa sih ?

Apakah percaya diri itu;
– cantik, ganteng
– kulit putih
– rambut lurus
– kulit putih
– rangking 10 besar di kelas
– banyak teman
– bisa apa saja
– dll

Kalau kita memiliki kriteria ini semua dan ternyata hanya 10 persen saja kita miliki, maka bisa dipastikan konsep percaya diri ga akan pernah bisa secara baik kita miliki.

Walhasil kita akan stres, frustrasi dan depresi. Kenapa begitu ? Karena tidak ada satu orang pun memiliki secara lengkap hal itu semua.

Setiap diri kita akan memiliki minimal satu hal atau satu bidang yang kita merasa ga bisa atau mampu.

Misal saja, kita ga bisa membangun rumah sendiri, tidak bisa memperbaiki sepeda sendiri, tidak bisa memperbaiki komputer atau laptop sendiri, dll, dst.

Coba saja kita gali dan buat daftar apa saja yang kita tidak bisa.

Nah, jadi jelas yaa… Konsep tentang percaya diri bahwa harus bisa dan ahli dalam semua bidang, harus diubah.

Secara singkatnya adalah bahwa kita tidak akan pernah bisa sempurna tanpa adanya keterlibatan orang lainnya.

Kita akan menjadi sempuran oleh orang lainnya. Hal ini akan membuat diri kita tidak akan merasa cepat puas diri dan sombong, dan juga tidak akan membuat diri kita pun minder atau rendah diri.

Karena kita tahu tidak seorang pun yang sempurna tanpa orang lainnya.

Yang perlu kita lakukan, ketika kita merasa ‘kurang’ atau ‘tidak cukup baik’ maka artinya kita butuh orang lainnya.

Orang lain bisa menjadi pemberi arahan kita, tempat kita belajar, berkolaborasi, atau berlatih.

Yang penting untuk kita lakukan, ketika kita bisa melakukan suatu hal, atau ingin melakukan suatu hal, pastikan kita belajar dan terus melatihnya sehingga kita menguasainya.

Menguasai dan bisa atau kompeten sesuai kadar kita, ala kita dan menjadi cirinya kita.

So, be proud always yaa… Karena setiap kita unik, berbeda, memiliki kadar dan cirinya sendiri.

So, be happy becoming you not becoming another person.

Selamat terus menjadi pribadi sehat, menyenangkan, dan percaya diri.

Salam sayang dari jauh,
Lusia P., S.Pd., CPHt, CTH, CMMF,CNVT, CPNNLP.
IG @lusiapw
FB Lusia Pansilawatiningsih
Youtube Ruang Inspirasi Lusi
Kota WIsata Cibubur – WA 085701101997
💖💖💖

PERCAYA DIRI BUKAN DARI MEDIA SOSIAL

MEDIA SOSIAL BUKANLAH PENENTU KEPERCAYAAN DIRI KAMU

Assalamualaykuum semuaa…
Apa kabar semua ? Semoga selalu semangat menjaga dan merawat kesehatan, semangat terus belajar dan meningkatkan diri untuk selalu lebih baik yaa….

Kali ini Saya ingin berbagi tentang Efek Media Sosial.
Suatu hari Saya kehadiran seorang remaja perempuan sekitar usia 14 tahun bersama ibunya di tempat praktik Saya. Orang tuanya datang kepada Saya agar anaknya dibantu untuk termotivasi belajar lebih baik. Menurut orang tuanya sudah hampir beberapa bulan putrinya tidak termotivasi belajar. Namun, tidak juga bisa mendapatkan komunikasi yang baik dengan putrinya. Kalau ditanya, putrinya selalu diam saja. Berbagai cara dilakukan. Namun, putrinya ini jika ditanya apakah mau mendapat prestasi yang bagus di sekolah, jawabannya mau. Dan ketika ditanya pilihan sekolah lanjutannya menjawab sekolah favorit yang selama ini diidamkan.

Singkat cerita, remaja putri ini, merasa insecure, merasa tidak aman dan nyaman. Ketika ditanya apa yang dirasakan dan dipikirkan, dia menjawab, dia merasa tidak cantik dan tidak pintar. Saya bertanya lagi, bagaimana perasaan itu terjadi, seperti apa kondisinya, kejadiannya. Dia bercerita ketika setiap buka instagram, dan melihat story atau postingan teman-temannya, dan dia membatin, “Cantik banget teman-temannya. Aku ga cantik.” Dan itu seringkali terjadi, hingga membuat energinya semakin turun, terkuras dengan hal-hal yang berpusat pada rasa dan pikiran tidak cantik dan tidak pintar.

Beberapa hari lalu juga Saya sempat berjumpa dengan seorang Ibu yang meminta jadwal konsultasi. Dia cerita kalau melihat postingan teman-temannya di media sosial yang semua berisi karya-karya, dan segala hal yang dilakukan teman-temannya membuat dirinya merasa insecure, tidak aman, tidak nyaman. “Orang lain begitu hebatnya bisa membuat ini itu, berkarya ini itu, melakukan ini itu, sementara Aku ga bisa seperti mereka,” demikian selalu batinnya. Atau dalam istilah populer di Psikologi adalah SELF TALK.

Hmm… kalau kalian bagaimana ?

Saya bisa jelaskan di sini bahwa, segala respon pikiran dan perasaan kita berasal dari persepsi kita. Apakah kita punya pengetahuan dan pengalaman tentang hal tersebut dan bagaimana kita merekam respon-respon terhadap hal itu. Kita coba sadari bersama yuk. Coba diingat, atau pernahkah kalian mendengar, melihat atau bahkan mengalami kalian dibanding-bandingkan, atau orang sedang membandingkan satu dengan lainnya, entah dirinya dengan orang lain, atau orang lain dengan orang lainnya. Informasi tersebut tersimpan dalam memori kita yang membentuk persepsi, bahwa kalau orang itu seperti ini seperti itu artinya dia hebat, pintar, cantik, keren, dll. Kalau orang itu begini begitu, artinya dia itu jelek, ga oke, ga pinter, dll dst. Iya, persepsi itu terbentuk menjadi program Pikiran Bawah Sadar kita, yang memiliki kekuatan mendorong dan mengarahkan diri kita dalam berkata-kata, bersikap dan bertingkah laku.

Karena sudah menjadi program diri kita, maka ketika kita melihat postingan-postinga berseliweran di media sosial, otak kita seolah secara spontan mengatakan, “Wah dia keren yaa, kalau aku bagaimana?” Padahal, kita juga tahu bahwa setiap individu itu unik, berbeda. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekuatannya masig-masing, bahkan kelemahannya juga sendiri-sendiri.

Mengapa kita tidak berhenti sampai di…, “Wah dia keren ya, alhamdulillah rezeki bisa kenal dengan dia, dengan orang-orang keren. Aku bisa belajar hal itu dari dia, jika Aku menginginkan. Wah memang keahlian dan kelebihan dia disitu ya… Dia memotivasi Aku…Aku akan mengasah kebisaan, kekuatan dan kelebihan aku lebih baik lagi.”

Pikiran kita itu tricky, dan bisa kita arahkan. So, arahkan terus yaa pikiran kita kepada segala hal yang kita inginkan terjadi untuk kebaikan dan kemajuan hidup kita, bukan justru memikirkan apa yang tidak kita inginkan terjadi dalam hidup kita.

Oh iya, alhamdulillah wa syukurillah, remaja putri tadi, setelah melakukan sesi hipnoterapi bersama Saya sebanyak 2x, dia menjadi semangat belajarnya dan tidak lagi merasa dirinya tidak cantik. Karena kenyataannya memang dia seorang putri remaja yang sangat manis, cerdas, pandai, tinggi, dan menyukai berbagai olahraga, terutama basket. Dan yang mengharukan sekaligus mengagumkan, dia mampu membuat dirinya mencapai nilai tertinggi ujian di tingkat seluruh kelasnya/angkatannya. Kok bisa ? Iya bisa, dengan metode hipnoterapi, kita bisa mengakses program Pikiran Bawah Sadar kita, kemudian kita ‘perbaiki’ atau kita ‘luruskan’ program-program yang sekiranya menghambat atau merugikan diri kita.

Luar biasa yaa… begitu hebatnya pikiran kita, bisa mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan belum pernah kita capai atau bahkan kita merasa tidak mungkin terjadi, dengan memprogram ulang pikiran kita. Iya, putri remaja tersebut belum pernah selama ini mendapatkan peringkat teratas di seluruh sekolahnya, di seluruh kelasnya bahkan. Saya pun ikut bangga padanya.

Nah, ibu yang satunya, Saya menemukan 2 hari berikutnya dia memposting video berisi tutorial menjahit sebagai kebiasaannya, padahal saat bercerita dengan Saya, dia mengatakan ada aja alasan untuk tidak merekam padahal dia begitu ingin sekali melakukannya, dengan tujuan mendokumentasikan kebisaannya kelak buat putrinya, dan memberi manfaat buat banyak para pemula yang ingin belajar menjahit. Bravooo… Luar biasa yaa…

Nah, kalau kamu… Apa yang menjadi kekuatan kamu ? Kamu sudah lakukan apa terhadap kekuatan/kelebihan kamu untuk kamu fokuskan? Gimana kisah pengalaman kamu dalam bermedia sosial ? Kalian boleh kirim surat ke Saya untuk berbagi cerita ya…

Terima kasih sebelumnya, salam hangat dan sayang dari jauh, dari Saya,

Lusia P., S.Pd.,C.P.Ht.,C.M.M.F., C.N.V.T., C.T.H., C.P.N.N.L.P.
IG @lusiapw
FB Lusia Pansilawatiningsih
Youtube Ruang Inspirasi Lusi
Kota Wisata Cibubur, Bogor – 085701101997

Hmmm, Pls Ngomong Ya…

Ngomong Yaa…

Saya termasuk salah satu yang menyadari betapa komunikasi itu sangat penting. Mungkin pada saat saya kecil, orang tua tidak atau belum menerapkan seperti apa yang saya pahami hari ini, namun kesadaran-kesadaran akan itu baik dari literatur, pendidikan, dan pengalaman menjadikan saya begitu concerm terhadap hal ini. Ya, komunikasi.

Saya menerapkan dan membiasakan kepada anak-anak untuk mereka mampu menyampaikan secara verbal apa yang mereka rasakan. Ketika mereka jengkel, kesal, sedih, komplain, dll tidak dengan cara memperlihatkan muka kesal, tingkah laku kesal, dan lainnya. Saya akan mendekati dan mengatakan, “ada apa siy ?” “Ayo dong diomingin aja, mama kan ga bisa baca pikiran kamu.”

Yess, ini dia, karena ketika kita berusaha membaca pikiran anak-anak kita berdasarkan sikap atau tingkah laku yang mereka perlihatkan saja, tanpa konfirmasi verbal dari yang bersangkutan, yang ada adalah kita menjadi sok tahu, dan membuat persepsi sendiri, yang bisa jadi bahkan seringkali salah. Dan hal ini membuat masalah menjadi lebih rumit, kacau dan semrawut. Walhasil membuat keadaan dan hubungan menjadi lebih tidak kondusif.

Cara menyampaikan pun saya benar-benar berusaha sekali menyadari, untuk menyampaikan dengan cara-cara yang ekologis, santun atau baik. Meski seringkali sulit menyampaikan dengan cara yang tenang ketika kita sedang kesal, namun, ketika kita menyadari sejenak, kita bisa menurunkan sedikit level emosi yang ada yang sedang negatif, menjadi sedikit lebih ekologis.

Saya terapkan tidak hanya ke diri saya sendiri namun juga sebisa mungkin membiasakan menerapkan hal ini dengan sering mengingatkan ke anak-anak. Bahwa mereka bisa duduk, tarik nafas, kemudian bicara. Saya biasanya juga dengan memberikan sedikit stimulus seperti, “Kesal sama siapa, sama mama, papa, adik/kakak, sekolah, atau apa ?”

Tentang cara atau alur ke mana mereka bisa mencurahkan rasa, isi hati nya. Bisa ke Saya sebagai mamanya, Ayahnya, atau ke yang bersangkutan langsung. Tentu dengan memberitahu seperti “Mama, aku mau ngomong.” 😊😁

Memang tidak lah mudah, namun saya yakin dengan sedikit kesadaran yang selalu ditimbulkan setiap waktu kita mampu menyadari yang kemudjan mengubah saat itu, bila sering kali kita lakukan, saya yakin itu akan memberi pengaruh. Tertanam sedikit demi sedikit yang seiring waktu bisa menjadi kuat. Menjadi nilai dan kebiasaan yang kuat.

Seperti hal nya dengan kondisi masyarakat saat ini, negara kita tercinta. Bila masyarakat menyadari bahwa dengan menyampaikan aspirasi dengan cara yang ekologis, akan justru memberi dampak yang lebih baik, ketimbang dengan cara-cara seperti anak-anak yang sulit menyampaikan pikiran dan perasaan atau emosinya secara verbal. Mereka umumnya cenderung memperlihatkan secara non verbal seperti menangis, rewel, merusak, membuat rusuh, dll.

Kita pun boleh memperlihatkan atau mengekspresikan perasaan dan pikiran kita secara emosional non verbal juga, namun disanding dengan kesadaran kedewasaan dan kebijaksanaan tentu akan jauh lebih menyenangkan banyak pihak. Menimbulkan respect dan akhirnya memberi pengaruh pemahaman yang lebih baik ketika didampingi kemudian dengan penyampaian secara verbal yang ekologis juga.

Semoga Saya dan kita semua bisa terus menghadirkan kesadaran-kesadaran baik, sehingga memampukan diri kita untuk terus lebih baik. Memberi pengaruh pada lingkungan kecil kemudian pada lingkungan lebih besar, masyarakat, bangsa dan negara kita tercinta, demi kebaikan dan kemajuannya.

Demikianlah kenyataannya.

Salam hormat dan bahagia… 🙏🙏🙏♥️♥️♥️

Lusia P., S.Pd., C.P.Ht., C.M.M.F., C.N.V.T., C.P.N.N.N.L.P., C.T.H.
IG : @lusiapw
FB Lusia Pansilawatiningsih
Youtube Ruang Inspirasi Lusi
WA : 085701101997

KETIKA KU JATUH CINTA

Ketika Ku Jatuh Cinta

Dedicated to siswa siswi kesayangan bapak ibu guru jenjang SMP, SMA.

Jatuh cinta ? Hmmm… berjuta rasanya. Bikin jantung berdebar, kadnag susah tidur, malas melakukan kegiatan, karena seluruh otak, pikiran, emosi fokus dan penuh dengan hanya ‘dia’ seorang.

Pengen selalu dekat, pengen selalu bisa komunikasi, pengen selalu bisa ketemu, dan seterusnya.

Ada yang gayung bersambut, ada juga yang bertepuk sebelah tangan.

Gimana siy kalo kena 1 rasa ini ? Jatuh hati, jatuh cinta ?

Gapapa, artinya kalian normal. Tugas perkembangan kalian berjalan baik. Syukuri rasa ini kalian bisa rasakan, alami.

Nah tantangannya adalah bagaimana cara menyikapi, mensiasati perasaan ini, agar tetap produktif ? Tetap memberi pengaruh positif, membuahkan banyak karya luar biasa yang mendekatkan kalian pada tujuan hidup, impian, harapan dan cita2 kalian.

Ada beberapa tips di bawah ini :

1. Ingatlah impian dan cita2 kalian. Bayangkan apa yang terjadi jika impian kalian tidak tercapai. Bila belum memiliki impian, target hidup. Buatlah dari sekarang. Pikirkan akibat terburuk dalam hidup yang kalian ga mau itu terjadi. Dan kalian bisa terhindar dari masa depan yang buruk hanya dengan tercapainya impian kalian.

2. Belajarlah untuk rileksasi, meditasi, self hipnosis, untuk membantu pikiran dan emosi selalu tenang dan fokus pada tujuan tercapainya cita2 kalian.

3. Ingatlah, jika kalian sayang pada diri sendiri, orang tua dan orang yang sedang kalian sayangi, cintai. Artinya buatlah diri kalian berharga, berkualitas, dan lakukan segala sesuatu yang terbaik buat orang2 yang kalian sayang, dan mereka sayang pada kalian.

Dengan terus menjaga hal tersebut, kalian tidak akan melakukan hal2 buruk terhadap mereka. Kalian akan selalu berusaha menjadi orang yang terus lebih baik.

4. Ingatlah nilai2 moral, ajaran2 atau prinsip2 agama yang kalian yakini. Takutlah pada TUHAN selalu. Agar jalan kalian dalam situasi seperti ini, tetap terjaga. Terjaga dan menjaga kehormatan diri, orang lain yang kalian sayang hormati, dan keluarga tentunya.

5. Ingatlah bahwa segala sesuatu dia dunia ini tidak ada yang kekal. Begitupun perasaan, emosi. Tidak pernah ada yang abadi. Rasa cinta, benci, sedih, sakit hati, rindu, terus saja akan berubah, naik turun bahkan bisa berganti bahkan tanpa kita rencanakan. Maka janganlah terlalu mengikuti perasaan, imbangi selalu dengan logika dan hati nurani. Sehingga ketika kalian merasa tersakiti tidak akan menjadi sangat sakit atau jatuh. Jangan lah terlalu mencinta ataupun membenci.

6. Selalu bangun komunikasi yang baik dengan orang dewasa yang kalian percaya kebijaksanaannya, moral dan nilai2 hidupnya. Ketika ada sesuatu yang menyesakkan dada, jangan dipendam, jangan biarkan dia menggerogoti diri kalian, sehingga menjadi sampah, busuk, dan menjadi bom waktu yang berefek buruk bagi diri sendiri. Maka ceritakanlah, jujurlah, dan selalu ingat akan prinsip selalu ada solusi baik. Kenekatan, akan selalu berakhir dengan penyesalan. Ketika hal itu terjadi kalian butuh energi yang sangat besar sekali untuk bangkit. Maka, sebelum itu terjadi, niatkan, setting jangan pernah ijinkan hal buruk terjadi.

7. Biasa saja. Hadapi segala sesuatu biasa-biasa saja. Menanggapi segala sesuati dengan berlebihan mengakibatkan mental yang tidak sehat.

8. Tetap dan semakin rajin beribadah, berdoa, dan belajar. Bila jodoh tidak akan kemana, percaya itu, yang dibutuhkan adalah kalian hanya butuh memantaskan diri. Dan yakin apapun yang Tuhan berikan adalah yang terbaik untuk kalian.

9. Pacaran bukan jalan terbaik menyalurkan rasa kalian. Menyambungkan rasa adalah dengan sikap dan tingkah laku terhormat. Berlaku baik, boleh memberikan perhatian, memghargai tapi belum saatnya untuk menjadikan hubungan yang terikat.

10. Raihlah cita2 mu lebih dulu. Wujudkan sgala cita2mu, maka itu yang akan menyelamatkanmu untuk mendapatkan orang yang kalian cintai dengan lebih indah, elegan, bermartabat dan penuh kehormatan. Ya, hanya dengan menikahinya, tanpa pacaran, kalian bisa menjadi orang yang berharga, terhormat. Mampu memafkahi hidupnya secara sah di mata Tuhan dan dihargai, direstui oleh masyarakat, lingkungan kalian.

Selamat menjalani masa indah ini ya… dengan sehat, penuh hikmah, wibawa dan prestasi2 cemerlang. Jadikan rasa itu penyemangat untuk berprestasi lebih lagi. Tunjukkan pada orang yang kalian cintai, bahwa ini lah aku, penuh dengan prestasi, layak kamu miliki kelak. 😉💪🏻🙏🏻

IG : @lusiapw
FB : Lusia Pansilawatiningsih
Youtube : Ruang Inspirasi Lusi
WA : 085701101997