KELANA MAAF 1

9 Maret 2021 – Lusia Pansilawatiningsih

Kelana Maaf

Kelana Minggu Pertama

 

Berawal dari ajakan seorang yang sudah kuanggap adikku sendiri untuk menulis bersama, aku pun menerima ajakannya. Iya, adik ketemu gede istilahnya. “Mbak, ikutan menulis bareng yuk !” ajaknya. Dengan ringan kujawab “Hayuuk…” Daan perjalananku dimulai. Surpriiiiseee…. Ternyata menulis barengnya ga sekedar mengirim tulisan and done. Ada kelas melalui grup Whatsapp.

 

Seminggu berkelana dalam grup tersebut, banyak pelangi yang kujumpai. Ada merah jambunya template dalam setiap tugas yang harus dipenuhi. Haru biru coretan pena setiap mommies dalam setiap memenuhi tugasnya serta galau kelabu para moms dalam membagi waktu mengikuti setiap kegiatannya.

 

Aaah serunya, begitu batinku. Minggu pertama aku banyak tersenyum-senyum geli sendiri. Iya, menertawai diri sendiri. Dan bukankah ini bagian paling keren dalam setiap momen diri ? Menulis ini saja membuat ujung bibirku tertarik kea rah luar membentu sabit. Bahkan, ketika setiap harinya, saat jariku menari di atas keyboard tidak jua berkerut dahi, hanya ada untaian kupu-kupu berterbangan di otak dan jiwa. Mengalir dalam setiap rangkaian kata yang kuputuskan untuk kuketik. Mulai dari tema AKU, AKU DAN EMOSI, BAGAIMANA AKU DI MATAMU dan KESIMPULAN DISKUSI BERSAMA.

 

Merangkai kata menjadi tulisan indah, bukan salah satu hal yang sangat mudah bagiku. Lidahku lebih ringan meronce kata demi kata dan membuncah memakna, mengurai berbagai letupan ide dari pikiranku. Di sini, aku belajar tidak hanya sekedar menulis, tetapi bagaimana tulisan menjadi buku dan disukai para pemirsa dan dibeli dengan suka cita.

 

Mulai dari mengenal sebuah jenis media sosial beroperasi hingga bagaimana memanfaatkannya dengan mempercantik tampilan dan isi yang berupa tulisan, tersaji untuk kami kunyah dan nikmati. Daya terus memacu untuk menelurkan karya hasil pembelajaran. Meski beberapa waktu menjadi jeda, adrenalinku terus memaksa untuk berhasil. Dan, ini lah salah satunya. Bukan upaya yang lemah, namun asa dan tekad yang mewujudkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *